"Bodo amat aku ga mau kerja kalau ga dianterin ke Bandung buat liat yang ijo - ijo. Kemarin Dewi pengen liat jerapah diajak ke taman safari. Masa aku engga. Jangan pilih kasih dong sama anak buahnya" Kataku pada manager ku yang umurnya hampir 1 dekade lebih tua dariku. Aku memang sudah tak muda lagi, tapi di departemen kami bisa dibilang aku yang termuda. Kalau aku tidak bersikap ceria sok manja begini, mungkin departemenku yang berisi om dan tante ini akan sesepi kuburan. Tak ada obrolan. Apalagi kedekatan.
"Dih. Mana yang katanya lu itu profesional? Ga kaya gue, yang pacaran mulu." Balas laki - laki yang mengaku dirinya keren tapi tak kunjung menikah itu. Mas Ari.
"Ah! Yaudahlah. Kalau kamu sama yang lain ga jadi ikut, aku pergi naik kereta ajalah sama Mba Lia dan Mba Ira. Tapi masa kamu sama Mas Yudi tega sih mas? Nanti kita bingung kemana - mana karna ga pada bisa bawa mobil." Mohonku memelas. Sebenarnya aku tak tau kenapa aku merasa sangat suntuk di Jakarta saat itu. Sampai aku mau repot - repot memaksa orang - orang kantor untuk pergi ke Bandung.
"Yailah. Lo yang abis putus. Lo yang pengen liburan. Ngapain gue yang repot? Ijo - ijo juga banyak di semanggi deket kos lo." Ejeknya.
Dia memang berkata begitu, tapi dia tetap ikut kami ke Bandung. Lagian dia sok tau sih. Aku suntuk bukan karna baru putus dari Sena. Saat putus dari Sena aku sudah sanggup hidup tanpanya kok. Bahkan air mataku tak ada yang tertetes untuknya saat itu. Ya, setelah dia hampir tidak pernah menghubungiku selama sebulan sih, berkat itu kurasa aku jadi sadar bahwa tanpanya aku bisa tetap hidup dan baik - baik saja.