“Ad, wanna go to cinema with me?”
“Mau nonton apa, Na?”
“Anything you like. Kinda of
bored.”
“Ok. See ya at 8!”
Tas?
Checked. Dompet? Checked. Muka? Agak kucel dikit sih tapi masih menuhin
standarlah ya. 10 menit lagi udah jam 8, kayanya udah waktunya gue pamitan ke
Ibu nih.
“Mau
kemana?”
“Nonton
sama Fa’ad, Bu. Daa!”
“Pulang
jangan malem – malem!”
“Siip!”
Gatau
kenapa I got my eyes stuck to your figure
from the start. Tapi kayanya aku emang punya selera yang bagus soal cowok.
Setiap cowok I have interest with selalu
jadi inceran banyak cewek lain. Padahal kamu bukan yang paling ganteng, ramah,
pinter, atau apapun. Aku cuma suka cara jalanmu yang beda, senyum jailmu yang charming, dan caramu memandangku. I adore you for kamu bisa cowok yang dekat
sama Tuhan di jaman edan kayak gini, kayanya aku bukan satu – satunya yang
mikir gitu, walaupun tentu aja aku juga dikelilingi orang – orang baik yang
mencintai Tuhan sepertimu. Last but not least, aku suka ngobrol sama kamu,
walaupun sejauh yang kuingat kita jarang melakukannya, tapi aku sudah cukup
bahagia hanya jadi temanmu.