Minggu, 05 Maret 2017

Short Story 9 - Someone



            Tok Tok…
            "Yuk balik!"
            “Kok Lo yang jemput gue? Mbak Susi kemana?”
            “Ada di rumah gue. Ngobrol sama bokap.”
            “Oh. Wait a minute. Nanggung tinggal lima.”
            Kulanjutkan lagi pekerjaanku untuk memasukkan data pada basis data. Kubiarkan Ridho menungguku sambil memainkan gitar yang memang disediakan di ruang bersantai perusahaanku. Ridho adalah adik ipar dari bosku, biasanya dia memang diminta kakaknya untuk menjemputku dan mangantarkanku pulang saat kakak dan kakak iparnya sedang sibuk sehingga tak bisa memberikan tumpangan untukku. Dia bukan tipeku. Sekalipun jika saat ini aku belum memiliki pacar, dia tetap bukan tipeku, karna sepertinya dia tipe ‘player’. Sudah cukup pacarku saja yang membuatku pusing dengan semua wanita – wanita mainannya itu. Aku tak mau menambah beban pikiran lagi dengan dekat – dekat dengannya. Selama ini aku hanya sekedar mengenalnya saja, dan sebaiknya memang seperti itu saja seterusnya.

            "Kamu tau ga sih kalau kakak cewekku itu ngeselin banget. Dia berusaha bikin aku deket lagi sama si Ella. Aku tau sih dia emang deket sama Ella, tapi kan aku udah tunangan sama cewekku yang sekarang, harusnya dia hormatin keputusanku dong"
            “Oh ya? Mungkin emang cewekmu kurang berusaha deketin keluargamu aja. Makanya kakakmu kaya gitu.” Aku tak tahu sejak kapan dia menganggap aku ini sebagai temannya, kenapa tiba – tiba menceritakan semua ini padaku? Dan ada apa dengan ‘aku – kamu’ ini? Kenapa setelah 2 bulan kenal baru sekarang dia bersikap seperti ini? Mungkin karna terlalu sebal aja. Mungkin juga karna emang udah ga ada lagi yang bisa diajak cerita.
            “Makasih ya. Ati – ati di jalan!”
            Sejak hari itu, kami semakin dekat. Sebagai teman. Begitulah yang ada di pikiranku. Malam ini Ridho ikut menginap pada salah satu acara perusahaanku. Kami sudah biasa seperti ini, duduk berdampingan, bertengkar seperti saudara, bercanda, dan menceritakan kisah kami masing – masing pada satu sama lain. Saat semua rekan kerjaku pergi untuk tidur ke kamar masing – masing, dia tiba – tiba memelukku.
“Dingiiinnn” Begitu katanya sambil memamerkan senyumnya, jadi kubiarkan saja dia memelukku.
“I’m gonna tell you something” Dia berbisik sambil mengisyaratkan padaku untuk mendekatkan telingaku ke bibirnya.
“Kiss me!”
“Sorry, aku tidur duluan ya!”
Hari demi hari berlalu seperti itu. Dia selalu berusaha mendekatiku seperti malam itu. Mendekatiku dengan manis tanpa ada yang tau. Mau tak mau aku mulai memperhatikannya. Mulai terbiasa akan kehadirannya. Mulai mencarinya saat ia tak muncul. Mulai kesal saat rekan – rekan kerjaku membicarakan pernikahannya dengan tunangannya. Ya, dia akan segera menikah. 1 bulan lagi. Akhir – akhir ini aku selalu bertanya pada diriku sendiri tiap kali aku ada di dekatnya‘Am I lost my mind!’. Selama ini hubunganku dengan Sena baik – baik saja. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku, terkadang aku ingin Ridho memilihku.
“Hai… Selamat ya buat nikahannya. Semoga cepet punya momongan ya Dhya-ku sayang.”
“Aamin. Makasih ya, Mi. Udah nyempetin buat dateng. Padahal pesawat lo besok berangkatnya pagi – pagi banget kan.”
“Haha santai aja. Kaya ama orang laen aja. Udah ah gue ke orang – orang dulu ya. Belum pamitan juga ke mereka.”
“Iya, Lo ati – ati ya di Aussie ntar.”
“Siplah. Selamet ya Dhy, Dho. Gue ikut seneng buat lo berdua.”
Aku cuma bisa kasih kamu senyuman dho. Sama tulusnya kaya senyuman – senyuman kamu buat aku 1 tahun belakangan ini. Terima kasih buat kisah yang belum sempat kita mulai ini. Hope you’ll be live a happy life with her forever. Wish me luck enough to forget our sweet secret. Bye, my love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar