Tok Tok…
"Yuk balik!"
“Kok Lo yang jemput gue? Mbak Susi kemana?”
“Ada di rumah gue. Ngobrol sama bokap.”
“Oh. Wait a minute. Nanggung tinggal lima.”
Kulanjutkan lagi pekerjaanku untuk memasukkan data pada
basis data. Kubiarkan Ridho menungguku sambil memainkan gitar yang memang
disediakan di ruang bersantai perusahaanku. Ridho adalah adik ipar dari bosku,
biasanya dia memang diminta kakaknya untuk menjemputku dan mangantarkanku
pulang saat kakak dan kakak iparnya sedang sibuk sehingga tak bisa memberikan
tumpangan untukku. Dia bukan tipeku. Sekalipun jika saat ini aku belum memiliki
pacar, dia tetap bukan tipeku, karna sepertinya dia tipe ‘player’. Sudah cukup
pacarku saja yang membuatku pusing dengan semua wanita – wanita mainannya itu.
Aku tak mau menambah beban pikiran lagi dengan dekat – dekat dengannya. Selama
ini aku hanya sekedar mengenalnya saja, dan sebaiknya memang seperti itu saja
seterusnya.
"Kamu tau ga sih kalau kakak cewekku itu ngeselin
banget. Dia berusaha bikin aku deket lagi sama si Ella. Aku tau sih dia emang
deket sama Ella, tapi kan aku udah tunangan sama cewekku yang sekarang,
harusnya dia hormatin keputusanku dong"
“Oh ya? Mungkin emang cewekmu kurang berusaha deketin
keluargamu aja. Makanya kakakmu kaya gitu.” Aku tak tahu sejak kapan dia
menganggap aku ini sebagai temannya, kenapa tiba – tiba menceritakan semua ini
padaku? Dan ada apa dengan ‘aku – kamu’ ini? Kenapa setelah 2 bulan kenal baru
sekarang dia bersikap seperti ini? Mungkin karna terlalu sebal aja. Mungkin juga
karna emang udah ga ada lagi yang bisa diajak cerita.
“Makasih ya. Ati – ati di jalan!”
Sejak hari itu, kami semakin dekat. Sebagai teman.
Begitulah yang ada di pikiranku. Malam ini Ridho ikut menginap pada salah satu
acara perusahaanku. Kami sudah biasa seperti ini, duduk berdampingan,
bertengkar seperti saudara, bercanda, dan menceritakan kisah kami masing –
masing pada satu sama lain. Saat semua rekan kerjaku pergi untuk tidur ke kamar
masing – masing, dia tiba – tiba memelukku.
“Dingiiinnn”
Begitu katanya sambil memamerkan senyumnya, jadi kubiarkan saja dia memelukku.
“I’m
gonna tell you something” Dia berbisik sambil mengisyaratkan padaku untuk
mendekatkan telingaku ke bibirnya.
“Kiss
me!”
“Sorry,
aku tidur duluan ya!”
Hari
demi hari berlalu seperti itu. Dia selalu berusaha mendekatiku seperti malam
itu. Mendekatiku dengan manis tanpa ada yang tau. Mau tak mau aku mulai
memperhatikannya. Mulai terbiasa akan kehadirannya. Mulai mencarinya saat ia
tak muncul. Mulai kesal saat rekan – rekan kerjaku membicarakan pernikahannya
dengan tunangannya. Ya, dia akan segera menikah. 1 bulan lagi. Akhir – akhir
ini aku selalu bertanya pada diriku sendiri tiap kali aku ada di dekatnya‘Am I
lost my mind!’. Selama ini hubunganku dengan Sena baik – baik saja. Tapi aku
tak bisa membohongi hatiku, terkadang aku ingin Ridho memilihku.
“Hai…
Selamat ya buat nikahannya. Semoga cepet punya momongan ya Dhya-ku sayang.”
“Aamin.
Makasih ya, Mi. Udah nyempetin buat dateng. Padahal pesawat lo besok
berangkatnya pagi – pagi banget kan.”
“Haha
santai aja. Kaya ama orang laen aja. Udah ah gue ke orang – orang dulu ya.
Belum pamitan juga ke mereka.”
“Iya,
Lo ati – ati ya di Aussie ntar.”
“Siplah.
Selamet ya Dhy, Dho. Gue ikut seneng buat lo berdua.”
Aku
cuma bisa kasih kamu senyuman dho. Sama tulusnya kaya senyuman – senyuman kamu
buat aku 1 tahun belakangan ini. Terima kasih buat kisah yang belum sempat kita
mulai ini. Hope you’ll be live a happy life with her forever. Wish me luck
enough to forget our sweet secret. Bye, my love.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar