Tiiinn...
Tiiinnn...
Itu pasti travel yang telah kupesan untuk pergi berlibur
di rumah Puput. Aku ingin mendapat pengalaman baru pada liburan kali ini,
dengan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Biasanya liburanku berakhir
membosankan, di rumah layaknya pakaian usang tak terpakai, tak memiliki
pekerjaan untuk dilakukan. Sekitar 5 jam perjalanan yang dibutuhkan untuk
sampai rumah Puput. Puput ini 4 bersaudara, memiliki 2 orang adik laki - laki
dan 1 adik perempuan. Adik laki - lakinya yang paling besar telah duduk di
kelas 3 SMA. Beda usia 3 tahun yang terpaut antara kami berdua membuat kami
canggung satu sama lain pada awalnya. Tentu saja, di Indonesia usia pria yang
lebih muda dibandingkan pasangannya masih merupakan isu yang sensitif. Halah,
belum apa – apa udah pake kata pasangan idiiih… Ketahuan banget cerita ini
bakal ngalir ke arah mana.
Hari ke-7...
"Aku mau belajar"
"Tumben kamu belajar." Kudengar Puput berkata
pada adik laki - lakinya.
"Beuh... Killer ibunya yang ini."
"Belajar apa sih? Sini!"
Kudengar dari kamar Puput yang kutempati selama disini kalau
Puput mengalami kesulitan dalam mengajari adik laki - lakinya yang duduk di
kelas 3 SMA itu.
"Sini aku bantu." Ucapku segera sambil berjalan
dari kamar ke arah ruang keluarga.
Menit demi menit berlalu, kami berdua masih mencoba
mengajari adiknya. Saat beberapa kali jawaban yang ditulis oleh adiknya salah,
aku mulai berani memberi saran atau memprotesnya sambil sedikit memukul santai
seperti saat sedang bercanda dengan teman akrabku. Ok, aku memang genit.
Hari ke-10...
Setiap kali berpapasan, aku dan adik laki - laki Puput
mulai saling lirik atau tersenyum. Dia punya senyum yang manis. Membuatku
berpikir "Andai saja dia bukan adik temanku".Aku ingin memeluknya.
Uhhh, betapa genitnya aku!
Hari ke-12...
Puput jatuh sakit, sedangkan aku harus mengambil cucian
di tempat laundry. Terpaksa aku
meminta tolong pada adik laki - laki temanku untuk mengantarkanku. Selain
karena aku belum bisa mengendarai sepeda motor dengan baik, aku juga belum mengenal
jalanan sekitar sini. Karna hari yang sudah menjelang malam, ternyata tempat laundry tersebut telah tutup sebelum
kami tiba disana. Alhasil, sebagai gantinya kami pergi ke minimarket untuk
membeli beberapa cemilan. Dalam perjalanan banyak hal yang kami bicarakan,
mulai dari betapa banyak gadis yang mengejar - ngejarnya hingga pengalamanku
saat melihat penampakan hantu di rumahku sana.
Rumah Puput terletak di sekitar tanah kosong dengan
rumput dan ilalang yang tumbuh tinggi, serta pohon - pohon yang masih rapat.
Karna hari sudah malam Dia berniat membuatku takut dengan mematikan lampu motor
dan berhenti ditengah lahan kosong tersebut. Aku sebenarnya tidak terlalu
takut. Hanya saja karna kami baru saja membahas cerita seram ditambah lagi ini
bukan daerah yang begitu kukenal, aku sedikit panik. Kutarik bajunya
dipinggang, kudekatkan wajahku ke kepalanya, kupeluk pundaknya, dan kujewer
kedua telinganya. Selama beberapa menit kulakukan hal itu hingga akhirnya dia
puas menertawakanku dan bersedia menyalakan motornya lagi untuk pulang ke
rumahnya. Aku tahu serta sadar sekali kalau apa yang baru saja kulakukan
merupakan kesalahan, bagaimanapun juga dia laki - laki yang baru kukenal, yang
tidak mungkin menjadi milikku, dia adik temanku.
Hari ke-13...
Menjelang siang hari aku mulai cemas karena adik temanku
tidak kunjung pulang, padahal kami harus mengambil cucian yang kemarin batal
kami ambil sebelum pukul 3 sore. Penantianku selama 2 jam terasa bagaikan
setahun, sangat lama. Dasar hiperbola. Aku tak tau kenapa aku bersikap seperti
itu. Begitu ia sampai kupaksa dia segera mengantarku. Walaupun aku tahu dia
lelah setelah baru saja pulang dari sekolah. Kembali kami memperbincangkan
berbagai hal dalam perjalanan. Mulai dari keinginanku membeli jus buah hingga
tempat - tempat yang biasa dipergunakan oleh anak - anak seusianya untuk
berpacaran.
Hari ke-14...
Hari ini aku merasa benar - benar keterlaluan, kupikir
aku mulai bertindak tidak wajar. Dimulai menonton film seharian dengannya
berdua di kamar, dengan tanganku yang sedikit menyentuh punggung atau
pinggangnya. Kemudian, rasa sebal yang agak aneh hanya karena dia pergi jalan -
jalan dengan salah seorang teman laki - lakinya ke pantai, tanpa mengajakku.
Sebenarnya aku sebal karena aku telah menunggu kedatangannya selama beberapa
jam sampai aku ketiduran, mandi, dan jalan - jalan sore sendirian. Hingga aku
yang berani menggandeng tangannya saat tidak ada yang melihat kami ketika
berjalan - jalan ke alun - alun dengan Puput. Disana kami sempat menghabiskan
beberapa menit untuk bermain ayunan, kami membicarakan banyak hal saat itu,
mulai dari sekolahnya, rencananya setelah lulus sekolah, dan lain sebagainya.
That's feel right, I thought I like him. Entah kenapa aku sedikit merasa kesal
saat ia melepaskan gandengan tanganku sewaktu posisi kami sudah dekat dengan
Puput, dan Puput yang menolak keinginanku untuk pulang berboncengan dengan
adiknya saja karna aku ingin membeli jus.
Hal paling konyol yang kulakukan hari ini adalah begitu sampai
di rumah Puput kami berdua menonton film berdua di kamar lagi, padahal semua
orang sudah tertidur karna waktu yang menunjukkan hampir tengah malam. Selama
film diputar, kami mulai berani saling sentuh, aku yang memulainya kuakui hal
itu, kami mulai saling memegang tangan, aku mulai merebahkan kepalaku di
pundaknya, kami mulai nyaman satu sama lain. Dan entah kenapa kami bersembunyi
dari keluarga Puput. Bukankah kami tidak melakukan hal yang salah atau
melanggar norma, kenapa kami harus sembunyi? Jauh didalam hatiku aku tahu. Aku
adalah teman kakaknya, dia adalah adik temanku. Dunia kami berbeda, meskipun
kami dapat kupastikan saling tertarik, tentu saja kami berdua lelaki dan gadis
normal. Hari yang benar benar
membuktikan betapa gilanya aku, aku tahu sebagai wanita yang dididik dengan
baik oleh kedua orangtuanya tak seharusnya aku melakukan itu. Tapi ah sudahlah.
Hari ke-15...
Ini hari kepulanganku. Saat ini aku sedang menuliskan
perasaan nyamanku pada seorang yang baru kukenal, namun telah berhasil
membuatku mengkhayalkan banyak hal. Dia membuatku merasa tidak ingin pulang,
padahal sebelumnya aku sangat ingin cepat pulang karna merindukan banyak orang
di Malang. Aku baru saja merasa nyaman berada disini. Aku mulai mengharapkan
hal lebih yang akan terjadi nanti antara kami berdua kalau saja aku tinggal
lebih lama lagi. Kutulis cerita ini setelah aku gagal mencoba tidur, satu
setengah jam lagi travel akan datang untuk menjemputku pulang, dan dia baru
saja pindah ke kamar sebelah untuk tidur. Setelah selama 1 jam kupaksa dia
menemaniku yang sulit tidur. Lihat, betapa beraninya aku melakukan itu. Meminta
seorang lelaki menemaniku hingga aku tertidur di kamarku, diatas kasur yang
menjadi tempatku tidur. Ini membuktikan seberapa jauhnya aku dari kata sempurna.
Rasanya benar - benar aneh. Aku mendadak memiliki
dorongan untuk diam - diam ke kamarnya dan mencium keningnya sebagai ucapan terimakasih
atas perasaan yang kurasakan sekarang ini, sebelum kemudian menuliskan nomor ku
di ponselnya. Tapi ini harus segera berakhir, aku harus kembali ke kotaku. Aku
tak yakin dia menyukaiku sebesar yang ada di khayalanku. Dan sekali lagi, dia
adik temanku. Dia terlalu baik untukku. Tapi aku pasti merindukan bau
parfumnya, dan juga caranya menarik hidungku. Dia lucu. Dia bilang "Kamu
beneran pulang?". Oh, aku ingin dia bilang "Jangan pulang hari ini!".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar