Minggu, 31 Juli 2016

Short Story 8 - Adik




             Tiiinn... Tiiinnn...
            Itu pasti travel yang telah kupesan untuk pergi berlibur di rumah Puput. Aku ingin mendapat pengalaman baru pada liburan kali ini, dengan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Biasanya liburanku berakhir membosankan, di rumah layaknya pakaian usang tak terpakai, tak memiliki pekerjaan untuk dilakukan. Sekitar 5 jam perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai rumah Puput. Puput ini 4 bersaudara, memiliki 2 orang adik laki - laki dan 1 adik perempuan. Adik laki - lakinya yang paling besar telah duduk di kelas 3 SMA. Beda usia 3 tahun yang terpaut antara kami berdua membuat kami canggung satu sama lain pada awalnya. Tentu saja, di Indonesia usia pria yang lebih muda dibandingkan pasangannya masih merupakan isu yang sensitif. Halah, belum apa – apa udah pake kata pasangan idiiih… Ketahuan banget cerita ini bakal ngalir ke arah mana.


            Hari ke-7...
            "Aku mau belajar"
            "Tumben kamu belajar." Kudengar Puput berkata pada adik laki - lakinya.
            "Beuh... Killer ibunya yang ini."
            "Belajar apa sih? Sini!"
            Kudengar dari kamar Puput yang kutempati selama disini kalau Puput mengalami kesulitan dalam mengajari adik laki - lakinya yang duduk di kelas 3 SMA itu.
            "Sini aku bantu." Ucapku segera sambil berjalan dari kamar ke arah ruang keluarga.
            Menit demi menit berlalu, kami berdua masih mencoba mengajari adiknya. Saat beberapa kali jawaban yang ditulis oleh adiknya salah, aku mulai berani memberi saran atau memprotesnya sambil sedikit memukul santai seperti saat sedang bercanda dengan teman akrabku. Ok, aku memang genit.
            Hari ke-10...
            Setiap kali berpapasan, aku dan adik laki - laki Puput mulai saling lirik atau tersenyum. Dia punya senyum yang manis. Membuatku berpikir "Andai saja dia bukan adik temanku".Aku ingin memeluknya. Uhhh, betapa genitnya aku!
            Hari ke-12...
            Puput jatuh sakit, sedangkan aku harus mengambil cucian di tempat laundry. Terpaksa aku meminta tolong pada adik laki - laki temanku untuk mengantarkanku. Selain karena aku belum bisa mengendarai sepeda motor dengan baik, aku juga belum mengenal jalanan sekitar sini. Karna hari yang sudah menjelang malam, ternyata tempat laundry tersebut telah tutup sebelum kami tiba disana. Alhasil, sebagai gantinya kami pergi ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan. Dalam perjalanan banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari betapa banyak gadis yang mengejar - ngejarnya hingga pengalamanku saat melihat penampakan hantu di rumahku sana.
            Rumah Puput terletak di sekitar tanah kosong dengan rumput dan ilalang yang tumbuh tinggi, serta pohon - pohon yang masih rapat. Karna hari sudah malam Dia berniat membuatku takut dengan mematikan lampu motor dan berhenti ditengah lahan kosong tersebut. Aku sebenarnya tidak terlalu takut. Hanya saja karna kami baru saja membahas cerita seram ditambah lagi ini bukan daerah yang begitu kukenal, aku sedikit panik. Kutarik bajunya dipinggang, kudekatkan wajahku ke kepalanya, kupeluk pundaknya, dan kujewer kedua telinganya. Selama beberapa menit kulakukan hal itu hingga akhirnya dia puas menertawakanku dan bersedia menyalakan motornya lagi untuk pulang ke rumahnya. Aku tahu serta sadar sekali kalau apa yang baru saja kulakukan merupakan kesalahan, bagaimanapun juga dia laki - laki yang baru kukenal, yang tidak mungkin menjadi milikku, dia adik temanku.
            Hari ke-13...
            Menjelang siang hari aku mulai cemas karena adik temanku tidak kunjung pulang, padahal kami harus mengambil cucian yang kemarin batal kami ambil sebelum pukul 3 sore. Penantianku selama 2 jam terasa bagaikan setahun, sangat lama. Dasar hiperbola. Aku tak tau kenapa aku bersikap seperti itu. Begitu ia sampai kupaksa dia segera mengantarku. Walaupun aku tahu dia lelah setelah baru saja pulang dari sekolah. Kembali kami memperbincangkan berbagai hal dalam perjalanan. Mulai dari keinginanku membeli jus buah hingga tempat - tempat yang biasa dipergunakan oleh anak - anak seusianya untuk berpacaran.
            Hari ke-14...
            Hari ini aku merasa benar - benar keterlaluan, kupikir aku mulai bertindak tidak wajar. Dimulai menonton film seharian dengannya berdua di kamar, dengan tanganku yang sedikit menyentuh punggung atau pinggangnya. Kemudian, rasa sebal yang agak aneh hanya karena dia pergi jalan - jalan dengan salah seorang teman laki - lakinya ke pantai, tanpa mengajakku. Sebenarnya aku sebal karena aku telah menunggu kedatangannya selama beberapa jam sampai aku ketiduran, mandi, dan jalan - jalan sore sendirian. Hingga aku yang berani menggandeng tangannya saat tidak ada yang melihat kami ketika berjalan - jalan ke alun - alun dengan Puput. Disana kami sempat menghabiskan beberapa menit untuk bermain ayunan, kami membicarakan banyak hal saat itu, mulai dari sekolahnya, rencananya setelah lulus sekolah, dan lain sebagainya. That's feel right, I thought I like him. Entah kenapa aku sedikit merasa kesal saat ia melepaskan gandengan tanganku sewaktu posisi kami sudah dekat dengan Puput, dan Puput yang menolak keinginanku untuk pulang berboncengan dengan adiknya saja karna aku ingin membeli jus.
            Hal paling konyol yang kulakukan hari ini adalah begitu sampai di rumah Puput kami berdua menonton film berdua di kamar lagi, padahal semua orang sudah tertidur karna waktu yang menunjukkan hampir tengah malam. Selama film diputar, kami mulai berani saling sentuh, aku yang memulainya kuakui hal itu, kami mulai saling memegang tangan, aku mulai merebahkan kepalaku di pundaknya, kami mulai nyaman satu sama lain. Dan entah kenapa kami bersembunyi dari keluarga Puput. Bukankah kami tidak melakukan hal yang salah atau melanggar norma, kenapa kami harus sembunyi? Jauh didalam hatiku aku tahu. Aku adalah teman kakaknya, dia adalah adik temanku. Dunia kami berbeda, meskipun kami dapat kupastikan saling tertarik, tentu saja kami berdua lelaki dan gadis normal. Hari yang benar  benar membuktikan betapa gilanya aku, aku tahu sebagai wanita yang dididik dengan baik oleh kedua orangtuanya tak seharusnya aku melakukan itu. Tapi ah sudahlah.
            Hari ke-15...
            Ini hari kepulanganku. Saat ini aku sedang menuliskan perasaan nyamanku pada seorang yang baru kukenal, namun telah berhasil membuatku mengkhayalkan banyak hal. Dia membuatku merasa tidak ingin pulang, padahal sebelumnya aku sangat ingin cepat pulang karna merindukan banyak orang di Malang. Aku baru saja merasa nyaman berada disini. Aku mulai mengharapkan hal lebih yang akan terjadi nanti antara kami berdua kalau saja aku tinggal lebih lama lagi. Kutulis cerita ini setelah aku gagal mencoba tidur, satu setengah jam lagi travel akan datang untuk menjemputku pulang, dan dia baru saja pindah ke kamar sebelah untuk tidur. Setelah selama 1 jam kupaksa dia menemaniku yang sulit tidur. Lihat, betapa beraninya aku melakukan itu. Meminta seorang lelaki menemaniku hingga aku tertidur di kamarku, diatas kasur yang menjadi tempatku tidur. Ini membuktikan seberapa jauhnya aku dari kata sempurna.
            Rasanya benar - benar aneh. Aku mendadak memiliki dorongan untuk diam - diam ke kamarnya dan mencium keningnya sebagai ucapan terimakasih atas perasaan yang kurasakan sekarang ini, sebelum kemudian menuliskan nomor ku di ponselnya. Tapi ini harus segera berakhir, aku harus kembali ke kotaku. Aku tak yakin dia menyukaiku sebesar yang ada di khayalanku. Dan sekali lagi, dia adik temanku. Dia terlalu baik untukku. Tapi aku pasti merindukan bau parfumnya, dan juga caranya menarik hidungku. Dia lucu. Dia bilang "Kamu beneran pulang?". Oh, aku ingin dia bilang "Jangan pulang hari ini!".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar