Darimana baiknya kumulai cerita
tentang kita ini? Ehm... Sepertinya kuceritakan sejak pertama kali aku tau kau
ada di dunia ini saja bagaimana? Dulu, ketika aku bisa dibilang adalah wanita
yang tak berakhlak mulia, bukannya ingin berkata sekarang aku adalah wanita
berakhlak mulia juga sih. Tapi setidaknya sekarang aku sudah berusaha untuk
jadi lebih baik, itupun berkatmu juga.
Aku. Nilam. Wanita
yang merasa dunia berpusat padanya. Berpikir telah memiliki segalanya. Punya
sepasang orangtua yang menjadikanku prioritas utama. Beberapa teman baik yang
selalu ada. Dan juga seorang pacar yang tidak hanya baik namun tampan juga
kaya, walaupun seperti manusia pada umumnya, dia tak sempurna. Sena.
Baluran National
Park, 2016.
“Nungu
siapa, Mi? Kok ga langsung masuk aja?” Kutanya Mimi, teman perjalananku ke
tempat ini, yang meminta untuk berhenti sebentar di dekat pintu masuk.
“Iam.
Kamu tau kan? Teman sejurusan kita juga?”
“Iya,
tau. Tapi ga kenal sih.”
Selang
beberapa menit, Iam datang. Baru setelah aku dan teman – teman Mimi yang lain
berkenalan dengan Iam, kami masuk ke tempat pembelian tiket.
“Berapa
orang dek?” Tanya bapak paruh baya yang bertugas menjual tiket.
“7
pak. 4 motor.” Jawab Mas Adi, salah satu teman Mimi.
Dari
ke 6 orang itu sebenarnya hanya Mimi yang kukenal, teman kuliah yang sedang
kutumpangi rumahnya selama beberapa hari di kota itu. 5 orang lainnya merupakan
teman Mimi, 4 laki – laki, dan 1 perempuan, semuanya seumuran denganku. Saat
berangkat ke tempat ini, aku berboncengan dengan Mas Adi, yang dari ceritanya selama
perjalanan itu aku tau, dia tidak kuliah dan bekerja di salah satu hotel di
kota itu. Teman lelakinya yang juga bekerja di hotel yang sama merupakan pacar
dari Anggi, sahabat Mimi dari SMA. Anggi dan pacarnya juga turut serta dalam
liburan ini.
Liburan
kali itu bisa dibilang cukup berkesan. Mulai dari beberapa snack dan barang yang sengaja kami beli di Indomaret saat dalam
perjalanan dicuri oleh puluhan monyet. Pertama kalinya aku melihat rusa,
banteng, merak, burung – burung cantik, dan fauna lainnya tanpa pagar pembatas
secara langsung, Harus kuakui Tuhan begitu Agung, tak ada satupun ciptaannya
yang tak kukagumi hari itu, termasuk monyet2 pintar yang mencuri snack kami itu. Tapi kejadian yang
paling berkesan adalah, saat aku dan Mas Adi jatuh dari motor ke lumpur karena
jalanan yang terjal dan licin. Hingga sejak jatuh sampai perjalanan pulang aku harus berboncengan dengan Iam karena sepertinya ada yang salah dengan motor Mas Adi setelah insiden itu. Baru setelah ditengah perjalanan kami harus berpisah dengan
Iam, karena rumahnya tak searah dengan kami, aku berboncengan dengan Mas Adi
kembali.
Dan
tak lupa, sepanjang hari itu sikap Mas Adi terlalu kentara ingin mendekatiku.
Misalnya saja saat yang lain asik bercanda bermain air di bibir pantai, dia malah
memilih mengobrol denganku sambil bermain ayunan saja. Aku tak menyalahkannya,
aku senang punya teman mengobrol. Tapi sejujurnya aku agak risih saat
obrolannya terkadang terlalu mendalam, lagipula aku sudah punya Sena di kotaku
sana. Setelah hari itu, Mas Adi dan Iam cukup intens chatting denganku setiap hari. Dari chat mereka berdua, kurasa niat Mas Adi terlihat semakin kentara ingin mendekatiku.
Sedangkan Iam
merupakan sosok teman yang baik dan menyenangkan, it’s kinda not feel boring at all having conversations with him.
Jadi bisa dibilang aku lebih nyaman chatting
dengan Iam, kurasa Iam tidak memiliki maksud tertentu selain berteman, well, we are a college friend anyway. Pertemanan
kami tidak berhenti pada sebatas chat,
kami sempat pergi makan siang bersama sebelum aku kembali ke kotaku. Tapi entah
sejak kapan pastinya setelah kembali ke kotaku, kami berhenti chatting, mungkin saat itu ada hati yang
sedang berusaha dia jaga.
Lain halnya dengan Mas
Adi yang tak pernah berhenti mendekatiku lewat chat bahkan setelah aku kembali ke kotaku. Sampai - sampai aku harus
mengubah foto profilku menjadi fotoku berdua dengan Sena. Karena selain sudah terlalu
risih, aku juga tak enak hati untuk menolak atau menjauhinya. Dia juga tak mengungkapkan perasaannya padaku, sehingga aku
akan tampak konyol jika memberinya penolakan secara terang – terangan, bisa
saja kan aku hanya salah paham. Yah, walaupun Mimi berkata padaku dia memang
awalnya ingin mendekatkan aku dan Mas Adi sih, saat aku curhat masalah ini. Mimi memang aneh, padahal dia tau aku sudah punya Sena. Untungnya
Mas Adi berhenti menghubungiku setelah itu. Kadang aku merasa tidak enak hati
padanya, aku takut telah menyakiti hatinya. Mungkin balasan chat ku yang menurutku sebatas bentuk kesopanan
dianggapnya lain. Semoga saja memang akunya yang salah paham, kegeeran.
To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar