Sabtu, 29 Februari 2020

Short Story 13 - Untitled (Part 1)

     Aku tak tau dimana letak kesalahanku yang pertama kali. Saat kusebarkan berita pada keluarga dan teman - temanku bahwa aku berniat segera menikah denganmu? Atau saat aku meminta putus darimu karena kurasa sayang yang kau selalu banggakan selama ini sudah tak terlihat di matamu? Kurasa bukan keduanya. Apa aku salah ketika berpikir takut kehilanganmu yang selama ini kurasakan hanya karna kesepian? Yang satu ini mungkin benar. Sekalipun alasanku yang sesungguhnya adalah perasaaanku buatmu yang sudah tumbuh seiring berjalannya waktu. Yah, walaupun akan kuakui diawal pertemuan aku hanya ingin mencoba dekat denganmu, tanpa ada niatan serius.

Darimana baiknya kumulai cerita tentang kita ini? Ehm... Sepertinya kuceritakan sejak pertama kali aku tau kau ada di dunia ini saja bagaimana? Dulu, ketika aku bisa dibilang adalah wanita yang tak berakhlak mulia, bukannya ingin berkata sekarang aku adalah wanita berakhlak mulia juga sih. Tapi setidaknya sekarang aku sudah berusaha untuk jadi lebih baik, itupun berkatmu juga.


Aku. Nilam. Wanita yang merasa dunia berpusat padanya. Berpikir telah memiliki segalanya. Punya sepasang orangtua yang menjadikanku prioritas utama. Beberapa teman baik yang selalu ada. Dan juga seorang pacar yang tidak hanya baik namun tampan juga kaya, walaupun seperti manusia pada umumnya, dia tak sempurna. Sena.
Baluran National Park, 2016.

            “Nungu siapa, Mi? Kok ga langsung masuk aja?” Kutanya Mimi, teman perjalananku ke tempat ini, yang meminta untuk berhenti sebentar di dekat pintu masuk.

            “Iam. Kamu tau kan? Teman sejurusan kita juga?”

            “Iya, tau. Tapi ga kenal sih.”

            Selang beberapa menit, Iam datang. Baru setelah aku dan teman – teman Mimi yang lain berkenalan dengan Iam, kami masuk ke tempat pembelian tiket.

            “Berapa orang dek?” Tanya bapak paruh baya yang bertugas menjual tiket.

            “7 pak. 4 motor.” Jawab Mas Adi, salah satu teman Mimi.

            Dari ke 6 orang itu sebenarnya hanya Mimi yang kukenal, teman kuliah yang sedang kutumpangi rumahnya selama beberapa hari di kota itu. 5 orang lainnya merupakan teman Mimi, 4 laki – laki, dan 1 perempuan, semuanya seumuran denganku. Saat berangkat ke tempat ini, aku berboncengan dengan Mas Adi, yang dari ceritanya selama perjalanan itu aku tau, dia tidak kuliah dan bekerja di salah satu hotel di kota itu. Teman lelakinya yang juga bekerja di hotel yang sama merupakan pacar dari Anggi, sahabat Mimi dari SMA. Anggi dan pacarnya juga turut serta dalam liburan ini.

            Liburan kali itu bisa dibilang cukup berkesan. Mulai dari beberapa snack dan barang yang sengaja kami beli di Indomaret saat dalam perjalanan dicuri oleh puluhan monyet. Pertama kalinya aku melihat rusa, banteng, merak, burung – burung cantik, dan fauna lainnya tanpa pagar pembatas secara langsung, Harus kuakui Tuhan begitu Agung, tak ada satupun ciptaannya yang tak kukagumi hari itu, termasuk monyet2 pintar yang mencuri snack kami itu. Tapi kejadian yang paling berkesan adalah, saat aku dan Mas Adi jatuh dari motor ke lumpur karena jalanan yang terjal dan licin. Hingga sejak jatuh sampai perjalanan pulang aku harus berboncengan dengan Iam karena sepertinya ada yang salah dengan motor Mas Adi setelah insiden itu. Baru setelah ditengah perjalanan kami harus berpisah dengan Iam, karena rumahnya tak searah dengan kami, aku berboncengan dengan Mas Adi kembali.

            Dan tak lupa, sepanjang hari itu sikap Mas Adi terlalu kentara ingin mendekatiku. Misalnya saja saat yang lain asik bercanda bermain air di bibir pantai, dia malah memilih mengobrol denganku sambil bermain ayunan saja. Aku tak menyalahkannya, aku senang punya teman mengobrol. Tapi sejujurnya aku agak risih saat obrolannya terkadang terlalu mendalam, lagipula aku sudah punya Sena di kotaku sana.  Setelah hari itu, Mas Adi dan Iam cukup intens chatting denganku setiap hari. Dari chat mereka berdua, kurasa niat Mas Adi terlihat semakin kentara ingin mendekatiku.

            Sedangkan Iam merupakan sosok teman yang baik dan menyenangkan, it’s kinda not feel boring at all having conversations with him. Jadi bisa dibilang aku lebih nyaman chatting dengan Iam, kurasa Iam tidak memiliki maksud tertentu selain berteman, well, we are a college friend anyway. Pertemanan kami tidak berhenti pada sebatas chat, kami sempat pergi makan siang bersama sebelum aku kembali ke kotaku. Tapi entah sejak kapan pastinya setelah kembali ke kotaku, kami berhenti chatting, mungkin saat itu ada hati yang sedang berusaha dia jaga.

Lain halnya dengan Mas Adi yang tak pernah berhenti mendekatiku lewat chat bahkan setelah aku kembali ke kotaku. Sampai - sampai aku harus mengubah foto profilku menjadi fotoku berdua dengan Sena. Karena selain sudah terlalu risih, aku juga tak enak hati untuk menolak atau menjauhinya. Dia juga tak mengungkapkan perasaannya padaku, sehingga aku akan tampak konyol jika memberinya penolakan secara terang – terangan, bisa saja kan aku hanya salah paham. Yah, walaupun Mimi berkata padaku dia memang awalnya ingin mendekatkan aku dan Mas Adi sih, saat aku curhat masalah ini. Mimi memang aneh, padahal dia tau aku sudah punya Sena. Untungnya Mas Adi berhenti menghubungiku setelah itu. Kadang aku merasa tidak enak hati padanya, aku takut telah menyakiti hatinya. Mungkin balasan chat ku yang menurutku sebatas bentuk kesopanan dianggapnya lain. Semoga saja memang akunya yang salah paham, kegeeran.


To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar