Rabu, 05 November 2014

Short Story 4 - Cinta


               Menunggu adalah hal yang paling kubenci di dunia ini, jangankan 5 menit 1 menitpun aku udah ga tahan buat ngambek sama orang yang kutunggu. Tapi dulu aku pernah menunggu orang special selama 4 jam, waktu itu rasanya campur aduk sih, ngambek iya, pengen nangis saking marahnya iya, kecewa iya, tapi senyumnya dan satu kata maaf yang meluncur dari bibir merah mudanya sudah cukup membuatku melupakan semua perasaan ga enak tadi. Dia terlalu istimewa, aku tak pernah bisa bertahan lama untuk marah padanya (rekor terlama cuma 1 menit) begitu juga sebaliknya. Kami normal seperti pasangan kekasih yang lain, kami mengobrol seperti teman, kami mengerti seperti sahabat, kami bercanda seperti anak kecil, dan kami melindungi seperti saudara. Semuanya sempurna untuk jadi pasangan sejati kan, tapi kurangnya satu, kami sama – sama suka bermain – main dengan hati orang lain. Saat ini aku sedang menunggu seseorang yang sama istimewanya seperti dia, hanya statusnya saja yang berbeda. Kali ini aku menunggu Raka, sahabatku.

                  “Hai” Lambaian tangan dan senyumnya ramah sekali, jadi bagaimana mungkin aku marah pada satu – satunya orang yang selalu mendampingiku selama lebih dari 4 tahun ini hanya karena menunggu sendirian di bangku taman selama 10 menit?
                 “10 menit” Kutunjukan jam tanganku untuk membuatnya sedikit merasa bersalah.
                “Kamu datang terlalu cepat” Dia balik menunjukkan jam tangannya yang menunjukkan tepat pukul 10 pagi dengan tatapan puas.
               “Menyebalkan! uhh” Karena es krim blueberry kesukaanku sudah tersodor di depan mataku, aku menghentikan omelan yang sudah siap meluncur dari tenggorokanku. Beginilah Raka, selalu berhasil membuatku merasa sebal dan senang dalam sekali waktu.
                “Putus lagi? Sama Al?” Kuangukkan kepalaku sebagai jawaban.
                “Bukannya dia seperti yang kamu mau?” Kuanggukkan kepalaku sekali lagi sambil terus menjilat es krim yang mulai melumer.
                “He treats you like a princess, right?” Kuanggukkan kepalaku dengan mantap kali ini.
                “So why?” Kali ini ganti pundakku yang bergerak. Kudengar helaan napas Raka, sebelum dia mulai berceramah cepat –cepat kujelaskan semuanya.
               “Dia tak bisa menerimaku apa adanya, dia menganggapku cewek matre yang minta ini itu dan diajak kesana dan kesitu”
               “Lalu Arry gimana? Didn’t he treats you like a princess too?” Ganti aku yang menghela napas panjang kali ini. Arry, dia pacarku sekarang. Secara fisik Al lebih baik, tapi sikap Arry lebih baik, dia supel pada semua teman dan keluargaku, dan dia tak se-possesive Al.
              “Kami belum berakhir. Dan ya dia memanjakanku. Tapi dia mulai memintaku untuk tidak menjadi aku.” Raka masih terdiam, mungkin juga dia berpikir atau mungkin dia sedang tidak tau harus berkata apa.
              “Kenapa tidak ada yang bisa menerimaku seikhlas kamu? Dan kenapa tidak ada yang mengerti aku seperti dia?”
              “Dia? Yang lagi liburan ke luar kota maksudmu?” Aku mengangguk pelan.
              “Dia sudah masalalumu. Dia lebih memilih cewek lain waktu itu, kenapa kamu masih…” Kurasa Raka melihat senyum kecil di bibirku tadi, aku tahu dia hanya ingin menyadarkanku. Tapi aku harus menghentikan ocehannya sekarang karena Arry telah terlihat datang dari kejauhan.
              “Hai, Ka” Arry dan Raka memang telah berteman sejak SMP.
              “Aku culik Lili dulu ya hehe” Arry memang berencana mengajakku pergi ke suatu acara hari ini. Aku telah bersiap berdiri disampingnya untuk segera meninggalkan Raka sendiri.
              “Jaga temanku baik – baik lo ya!” Raka telah melambaikan tangannya padaku sebelum Arry berkata.
             “Iya, tapi aku jadi berasa kayak kacungnya deh.” Kututup mata sejenak sebelum berkata pelan pada Raka, berbisik lebih tepatnya.
             “See?”
Memang begitulah Lili, dia akan minta ditemani kemanapun dia pergi karena tak suka sendirian, kalau kamu ga pengen merasa repot persilahkan dia untuk punya 100 pacar selain kamu haha. Aku lebih parah kok, percayalah kamu itu belum seberapa!” Raka tersenyum dan mengucapkan salam perpisahan.
Cting. Kuusap layar handphone dan kubaca pesan singkat dari nomor tak dikenal.
Aku sudah kembali, Ibu mau ketemu kamu. Bales di nomorku aja. Bimo.”
Kutengok Arry yang sedang menyetir. Kubalas sms itu secepat mungkin sebelum menyentuh lengan Arry dan berkata.
Aku memilihmu, tolong jangan kecewain aku ya” Arry hanya membalas dengan tatapan bingung sebelum akhirnya tersenyum dan berkata lembut. Mengenai dia mengerti maksudku atau tidak, aku juga tak tahu.
Aku akan berusaha. Udah sampai nih, mana temenmu yang mau jemput?” Kami berhenti di salah satu gang kecil disamping restoran cepat saji. Aku memang minta diantar kemari, aku lebih memilih pergi ke rumah temanku daripada pulang ke rumah, karena aku telah merencanakan sesuatu untuk memperbaiki semua.
Aku sadar akhir – akhir ini kamu jauhin aku, kamu udah mulai ga tahan ya?”
Sejujurnya iya, ga bisakah kamu jadi sedikit mandiri?”
Aku mandiri tergantung dari sisi mana kamu melihat. Kamu keberatan aku minta anter atau jemput gitu? Tenang aja, aku akan sibuk setelah liburan panjang ini selesai. Aku akan jarang gangguin kamu kok.”
Bukannya gitu, tapi aku sibuk, aku gabisa selalu ada buat kamu. Jujur, aku lebih milih pergi sama teman – temanku daripada sama kamu.”
ehem, jadi kamu maunya gimana? Lanjut atau udahan?”
Kamu maunya gimana?”
Aku simple kok orangnya. Kamu aja yang pilih, kamu cowok aku cewek, kamu yang jadi imam aku cuma makmum kamu. Lanjut ok, udahan ok.” Ada jeda lama setelah ucapanku berakhir. Kurasa dia sedang berpikir. Tapi aku sudah tau bagaimana ini akan berakhir setelah mendengar pengakuannya barusan.
Kita temenan aja deh kayaknya. Ini yang terbaik. Pertama, aku sibuk dan ga akan punya waktu buat kamu. Kedua, aku emang udah ga tahan sama kamu.” Entahlah bagaimana gambaran perasaanku saat ini. Aku lega karena kami akan berhenti saling menyakiti dengan berakhirnya hubungan ini. Tetapi tetap saja aku kecewa, karena dialah yang dipilih oleh orangtuaku, dan dia yang telah kupercaya untuk menjaga hatiku sebenarnya.
Oh, oke deh. Itu motor putih, berjilbab, ga pake helm, itu temenku!”Untunglah dia datang di waktu yang tepat, sehingga aku tak perlu berlama – lama lagi memikirkan Arry. Kutinggalkan Arry sendiri, sepertinya masih ada beberapa hal yang ingin dia katakan, tapi aku sedang tak ingin menangis sekarang, jadi lebih baik aku pergi.
Malam ini sambil menatap kerlip bintang - bintang yang ada di langit gelap aku memikirkan semua yang telah terjadi akhir – akhir ini. Mungkin semua orang beranggapan seorang playboy atau playgirl adalah orang yang tak menghargai cinta orang lain. Tapi mereka salah, kami adalah orang yang paling takut ditinggalkan oleh orang – orang kami cinta itu, karena sudah terlalu banyak orang yang pergi dari hidup kami. Karena itu, aku tak pernah kehabisan alasan untuk mempertahankan Al dan Arry sebelumnya. Aku telah berusaha sebelumnya, aku telah merubah diriku untuk membuktikan aku menyayangi mereka secara tulus. Hanya saja saat ini aku telah memutuskan untuk melepaskan mereka yang telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk berpura-pura mencintaiku dan merubah diriku sesuai bayangan mereka di cermin. Kadang kita memang harus memilih untuk melepaskan dia yang kita cintai, bukan karna kita tak peduli lagi, tapi kita berhenti memaksa dia untuk peduli dan menerima kita apa adanya.
Menangis memang perlu, tapi kenapa menangisi cinta? Bukankah terseyum itu lebih indah?, Bukankah di sana masih banyak cinta yg lebih murni? Kita tak akan pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Akan kubuka hatiku untuk siapa saja saat ini, untuk mengetahui siapa yang paling tulus. Kuraih handphone ku.
Bim, aku baru putus sama pacarku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar