Menunggu
adalah hal yang paling kubenci di dunia ini, jangankan 5 menit 1
menitpun aku udah ga tahan buat ngambek sama orang yang kutunggu.
Tapi dulu aku pernah menunggu orang special selama 4 jam, waktu itu
rasanya campur aduk sih, ngambek iya, pengen nangis saking marahnya
iya, kecewa iya, tapi senyumnya dan satu kata maaf yang meluncur dari
bibir merah mudanya sudah cukup membuatku melupakan semua perasaan ga
enak tadi. Dia terlalu istimewa, aku tak pernah bisa bertahan lama
untuk marah padanya (rekor terlama cuma 1 menit) begitu juga
sebaliknya. Kami normal seperti pasangan kekasih yang lain, kami
mengobrol seperti teman, kami mengerti seperti sahabat, kami bercanda
seperti anak kecil, dan kami melindungi seperti saudara. Semuanya
sempurna untuk jadi pasangan sejati kan, tapi kurangnya satu, kami
sama – sama suka bermain – main dengan hati orang lain. Saat ini
aku sedang menunggu seseorang yang sama istimewanya seperti dia,
hanya statusnya saja yang berbeda. Kali ini aku menunggu Raka,
sahabatku.
“Hai” Lambaian tangan dan senyumnya ramah sekali, jadi bagaimana mungkin aku marah pada satu – satunya orang yang selalu mendampingiku selama lebih dari 4 tahun ini hanya karena menunggu sendirian di bangku taman selama 10 menit?
“Hai” Lambaian tangan dan senyumnya ramah sekali, jadi bagaimana mungkin aku marah pada satu – satunya orang yang selalu mendampingiku selama lebih dari 4 tahun ini hanya karena menunggu sendirian di bangku taman selama 10 menit?
“10
menit” Kutunjukan jam tanganku untuk membuatnya sedikit merasa
bersalah.
“Kamu
datang terlalu cepat” Dia balik menunjukkan jam tangannya yang
menunjukkan tepat pukul 10 pagi dengan tatapan puas.
“Menyebalkan!
uhh” Karena es krim blueberry kesukaanku sudah tersodor di depan
mataku, aku menghentikan omelan yang sudah siap meluncur dari
tenggorokanku. Beginilah Raka, selalu berhasil membuatku merasa sebal
dan senang dalam sekali waktu.
“Putus
lagi? Sama Al?” Kuangukkan kepalaku sebagai jawaban.
“Bukannya
dia seperti yang kamu mau?” Kuanggukkan kepalaku sekali lagi sambil
terus menjilat es krim yang mulai melumer.
“He
treats you like a princess, right?” Kuanggukkan kepalaku dengan
mantap kali ini.
“So
why?” Kali ini ganti pundakku yang bergerak. Kudengar helaan napas
Raka, sebelum dia mulai berceramah cepat –cepat kujelaskan
semuanya.
“Dia
tak bisa menerimaku apa adanya, dia menganggapku cewek matre yang
minta ini itu dan diajak kesana dan kesitu”
“Lalu
Arry gimana? Didn’t he treats you like a princess too?” Ganti aku
yang menghela napas panjang kali ini. Arry, dia pacarku sekarang.
Secara fisik Al lebih baik, tapi sikap Arry lebih baik, dia supel
pada semua teman dan keluargaku, dan dia tak se-possesive Al.
“Kami
belum berakhir. Dan ya dia memanjakanku. Tapi dia mulai memintaku
untuk tidak menjadi aku.” Raka masih terdiam, mungkin juga dia
berpikir atau mungkin dia sedang tidak tau harus berkata apa.
“Kenapa
tidak ada yang bisa menerimaku seikhlas kamu? Dan kenapa tidak ada
yang mengerti aku seperti dia?”
“Dia?
Yang lagi liburan ke luar kota maksudmu?” Aku mengangguk pelan.
“Dia
sudah masalalumu. Dia lebih memilih cewek lain waktu itu, kenapa kamu
masih…” Kurasa Raka melihat senyum kecil di bibirku tadi, aku
tahu dia hanya ingin menyadarkanku. Tapi aku harus menghentikan
ocehannya sekarang karena Arry telah terlihat datang dari kejauhan.
“Hai,
Ka” Arry dan Raka memang telah berteman sejak SMP.
“Aku
culik Lili dulu ya hehe” Arry memang berencana mengajakku pergi ke
suatu acara hari ini. Aku telah bersiap berdiri disampingnya untuk
segera meninggalkan Raka sendiri.
“Jaga
temanku baik – baik lo ya!” Raka telah melambaikan tangannya
padaku sebelum Arry berkata.
“Iya,
tapi aku jadi berasa kayak kacungnya deh.” Kututup mata sejenak
sebelum berkata pelan pada Raka,
berbisik lebih tepatnya.
“See?”
“Memang
begitulah Lili, dia akan minta ditemani kemanapun dia pergi karena
tak suka sendirian, kalau kamu ga pengen merasa repot persilahkan dia
untuk punya 100 pacar selain kamu haha. Aku lebih parah kok,
percayalah kamu itu belum seberapa!” Raka tersenyum dan mengucapkan
salam perpisahan.
Cting.
Kuusap layar handphone dan kubaca pesan singkat dari nomor tak
dikenal.
“Aku
sudah kembali, Ibu mau ketemu kamu. Bales di nomorku aja. Bimo.”
Kutengok
Arry yang sedang menyetir. Kubalas sms itu secepat mungkin sebelum
menyentuh lengan Arry dan berkata.
“Aku
memilihmu, tolong jangan kecewain aku ya” Arry hanya membalas
dengan tatapan bingung sebelum akhirnya tersenyum dan berkata lembut.
Mengenai dia mengerti maksudku atau tidak, aku juga tak tahu.
“Aku
akan berusaha. Udah sampai nih, mana temenmu yang mau jemput?” Kami
berhenti di salah satu gang kecil disamping restoran cepat saji. Aku
memang minta diantar kemari, aku lebih memilih pergi ke rumah temanku
daripada pulang ke rumah, karena aku telah merencanakan sesuatu untuk
memperbaiki semua.
“Aku
sadar akhir – akhir ini kamu jauhin aku, kamu udah mulai ga tahan
ya?”
“Sejujurnya
iya, ga bisakah kamu jadi sedikit mandiri?”
“Aku
mandiri tergantung dari sisi mana kamu melihat. Kamu keberatan aku
minta anter atau jemput gitu? Tenang aja, aku akan sibuk setelah
liburan panjang ini selesai. Aku akan jarang gangguin kamu kok.”
“Bukannya
gitu, tapi aku sibuk, aku gabisa selalu ada buat kamu. Jujur, aku
lebih milih pergi sama teman – temanku daripada sama kamu.”
“ehem,
jadi kamu maunya gimana? Lanjut atau udahan?”
“Kamu
maunya gimana?”
“Aku
simple kok orangnya. Kamu aja yang pilih, kamu cowok aku cewek, kamu
yang jadi imam aku cuma makmum kamu. Lanjut ok, udahan ok.” Ada
jeda lama setelah ucapanku berakhir. Kurasa dia sedang berpikir. Tapi
aku sudah tau bagaimana ini akan berakhir setelah mendengar
pengakuannya barusan.
“Kita
temenan aja deh kayaknya. Ini yang terbaik. Pertama, aku sibuk dan ga
akan punya waktu buat kamu. Kedua, aku emang udah ga tahan sama
kamu.” Entahlah bagaimana gambaran perasaanku saat ini. Aku lega
karena kami akan berhenti saling menyakiti dengan berakhirnya
hubungan ini. Tetapi tetap saja aku kecewa, karena dialah yang
dipilih oleh orangtuaku, dan dia yang telah kupercaya untuk menjaga
hatiku sebenarnya.
“Oh,
oke deh. Itu motor putih, berjilbab, ga pake helm, itu
temenku!”Untunglah dia datang di waktu yang tepat, sehingga aku tak
perlu berlama – lama lagi memikirkan Arry. Kutinggalkan Arry
sendiri, sepertinya masih ada beberapa hal yang ingin dia katakan,
tapi aku sedang tak ingin menangis sekarang, jadi lebih baik aku
pergi.
Malam
ini sambil menatap kerlip bintang - bintang yang ada di langit gelap
aku memikirkan semua yang telah terjadi akhir – akhir ini. Mungkin
semua orang beranggapan seorang playboy atau playgirl adalah orang
yang tak menghargai cinta orang lain. Tapi mereka salah, kami adalah
orang yang paling takut ditinggalkan oleh orang – orang kami cinta
itu, karena sudah terlalu banyak orang yang pergi dari hidup kami.
Karena itu, aku tak pernah kehabisan alasan untuk mempertahankan Al
dan Arry sebelumnya. Aku telah berusaha sebelumnya, aku telah merubah
diriku untuk membuktikan aku menyayangi mereka secara tulus. Hanya
saja saat ini aku telah memutuskan untuk melepaskan mereka yang telah
menghabiskan begitu banyak waktu untuk berpura-pura mencintaiku dan
merubah diriku sesuai bayangan mereka di cermin. Kadang kita memang
harus memilih untuk
melepaskan dia yang kita cintai, bukan karna kita tak peduli lagi,
tapi kita berhenti memaksa dia untuk peduli dan menerima kita apa
adanya.
Menangis
memang perlu, tapi kenapa menangisi cinta? Bukankah terseyum itu
lebih indah?, Bukankah di sana masih banyak cinta yg lebih murni?
Kita tak akan pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Akan kubuka
hatiku untuk siapa saja saat ini, untuk mengetahui siapa yang paling
tulus. Kuraih handphone ku.
“Bim,
aku baru putus sama pacarku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar