Minggu, 19 April 2015

Short Story 5 - Mama Ata



“Aku hamil. Makanya aku ngerasa ga enak badan terus akhir – akhir ini”
“Lo?Kamu belum makan?”
“Enggak, mual, ga enak makan.”
“Makan ya, please! Jaga kesehatan anak kita!” Kami tersenyum.

      Yah, itu kan cuma kejadian sebulan yang lalu. Saat pertama kali aku merasa bangga telah  dilahirkan sebagai seorang wanita di dunia ini, aku akan jadi seorang ibu, dan akan dipanggil oleh semua orang dengan sebutan mamanya Ata. Ata akan menjadi matahari dalam hidupku, sama seperti nama yang akan kuberikan padanya nanti saat ia lahir. Tapi aku tahu kebahagiaan tak akan bertahan selamanya. Sekarang? Aku sedang duduk di samping ranjang dan bersiap meminum pil aborsi.
            “Maafkan Mama, Ata sayang. Mama terpaksa. Tuhan hamba kembalikan Ata kesisiMu, hamba mohon jaga dia dan jika Engkau berkenan kirimkan Dia kembali kepada hamba saat waktunya telah tepat.”
            Kuhabiskan sore hariku sepulang kerja seperti biasa, mengamati sebuah rumah. Rumah baru yang ia hadiahkan untuk istri barunya, Karin. Aku tak akan berbohong dengan berkata aku sudah bisa melupakan rasa sayangku pada mantan suamiku itu, karena sebenci apapun aku padanya kami pernah berjuang untuk bahagia bersama - sama, dan aku bersyukur dia pernah menjadi calon ayah bagi Ata, yang sayangnya tak pernah sempat melihat dunia ini.
            Drrrt... Drrt... Drrrrt...
            “Hal. Ada apa, San?”
            “Kamu dimana? Besok ulangtahun ke-6 Resha. Kamu ga lupa kan?”
            “Iya, San. Tenang aja. Ga mungkin aku lupain hari ulangtahun anak sahabatku apalagi kalau dingetin sama Mama Sandra tiap hari kayak gini. Hahaha”
            “Kamu ga lagi di depan rumah Alex kan?”
            “Kamu paranormal ya?Hahaha”
            “Aduh, Tara! Kamu tuh dibilang bego juga ga pantes secara kamu seorang pengusaha sukses. Tapi kok begonya ga ketulungan gini. Kamu lupa dia udah selingkuhin kamu? Kamu masih aja cinta sama dia?”
            “Aku ga cinta dia lagi. Aku benci dia sebagai manusia biasa. Aku hanya menghargai waktuku selama 6 tahun mendampinginya sejak kuliah sampai akhirnya kami bercerai. Lagipula aku cuma mau liat keadaan dia aja kok, Sandra. Entah kenapa setiap melihatnya tersenyum aku merasa hangat karena teringat pada Ata.”
            “Carilah sosok lain yang akan selalu tersenyum padamu, bukan pada wanita lain macam Karin. Aku yakin sosok seperti itu akan pantas menjadi ayah dan akan menjadikanm ibu dari malaikat kecil seperti Ata yang lain lagi nantinya.”
            “Sudah, jangan bawel dan menasehatiku lagi! Aku pulang sekarang kok.Bye”
            Tuuuut...
            Sudah ribuan kali Sandra mengatakannya, aku tidak bodoh, aku tahu itu benar. Hanya saja belum ada yang mampu meyakinkanku.
            “Pestanya menyenangkan!” Kucium kedua pipi sahabatku kemudian memeluknya.
            “Tante Taraaaaa!!!!” Terdengar suara melengking anak perempuan yang tak asing lagi, sudah pasti dia si empunya pesta, Resha.
            “Halo sayang! Aduh, kayaknya hepi banget nih yang lagi ulangtahun.”
            “Iya dong, kado aku mana tante?” Resha celingukan dengan ekspresi yang lucu, dialog ini sudah rutin ia lucapkan tiap tahun, maklumlah selain ibu dan nenknya, akulah wanita yang paling dekat dengannya sejak ia lahir.
            “Yaaaah, tante lupa beli kado buat Resha. Besok – besok aja deh ya tante kasih kadonya?” Dengan ekspresi cemberut yang lucu dia merajuk.
            “Uuuuhh”
            “Bercanda sayang. Kadonya ga bisa dibawa jadi tante kirim ke kamar Resha di rumah deh.” Ajaibnya anak kecil itu ekspresi dan suasana hatinya bisa berubah hana dalam hitungan detik saat mendengar sesuatu yang membuatnya gembira.
            “Beneran ya tante? Awas kalo nanti Resha pulang, kadonya ga ada.” Nada mengancam dan ekspresi menggemaskannya kurasa bisa membuat siapa saja yang didekatnya tertawa.
            “Udah, udah, Resha sekarang main sama temen – temen Resha ya. Mama ada urusan rahasia yang penting sekali dengan tante Tara. Mama pinjem tante Tara nya bentar boleh?”
            “Ahhh, Mama ga asik nih.” Dia berlari ke arah gerumbulan anak – anak perempuan yang sedang membahas kue ulang tahun Resha yang berbentuk wajah kartun Resha.
            Sandra menarikku entah kemana, saat dia akhirnya berhenti menarikku kudengar ia berkata, “Tar, kenalin ini Pras bosnya suamiku di kantor barunya. Pak Pras kenalkan ini Tara, teman saya dari SMA.”. Setelah saling berjabat tangan Sandra meninggalkanku dengan dalih teman – teman arisannya datang. Ini bukan pertama kalinya ia menjodohkanku seperti ini, tapi yang kali ini tampangnya lumayan haha. Keliatannya masih muda, seumuran denganku. Biasanya dia mengenalkanku dengan pria – pria yang sudah tua, dengan alasan “nyari pria sukses kayak yang kamu mau itu susah kalau dibawah umur 30 tahunan”. Lah ini buktinya dia nemu.
            “ATAAAA!!! Udah siang, ayo berangkat sekolah sayang!”
            “Iya, Ma.” Terdengar langkah kakinya yang berat menuruni tangga dengan terburu – buru. Dasar remaja jaman sekarang doyannya bangun kesiangan dan lari – larian dalam rumah.
            “Udah ditunggu Papa di depan pintu tuh.”
            “Iya – iya mama sayang. Muach. ” Dikecupnya pipiku untuk menghentikan omelanku sambil mengunyah rotinya, satu lagi kebiasaan buruknya yang sangat kusukai.
            “Ata pergi dulu ya, Ma. Daa” Dia berlari ke mobil papanya stelah mencium tanganku dan kucium keningnya.
            “Ata sudah besar, Ma. Sebentar lagi dia akan menjadi lelaki yang mengajak kita ke rumah pacarnya untuk dikenalkan dengan orangtua pacarnya nih kayaknya.”
            “Isshh... Papa ada – ada aja deh. Ata kan masih SMA.” Kusempatkan untuk mencubit tangan Pras sebelum kucium tangannya.
            “Papa berangkat dulu ya, Ma. Baik – baik di rumah. Perusahaannya dititipin ke OB di kantor Mama aja. Hhaha”
            “Kamu belum berubah. Ck ck ck”
            Kulihat mobil suamiku telah menjauh. Kuambil tas dan kunci mobilku, lalu pergi ke kantor juga. Sandra benar, memang ada lelaki di dunia ini yang bisa memberikanku seluruh kebahagiaan di dunia ini. Hanya dengan menjadi suami dan ayah yang baik untukku dan untuk Ata-ku yang disini. Tuhan jaga Ata yang disana ya, terimakasih atas segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar