Minggu, 19 April 2015

Short Story 6 - Ikatan



            Sebelumnya aku tak pernah paham apa itu ikatan cinta. Tentu ini bukan bualan tentang pertama kalinya aku jatuh cinta. Ini cuma kali pertama aku merasa aku memiliki ikatan cinta dengan seseorang. Ikatan yang tanpa status seperti apa yang umum dilakukan pemuda pemudi Indonesia saat ini. Ikatan yang mengajarkanku berbagai hal. Ini bukan cerita cinta yang benar – benar suci untuk disimak.

             Karena aku, Mala, adalah seorang putri yang dianggap baik hati seperti putri di dongeng pengantar tidur anak kecil oleh hampir semua orang yang mengenalku. Tapi aku adalah wanita paling jahat, aku tidak secantik miss universe tentu saja, tapi aku bisa mendapatkan hati semua cowok yang aku mau jika aku mau, tapi beberapa bulan terakhir aku merasa koleksiku selama ini sudah terlalu banyak, so I quit. Aku juga bukan orang sepintar Albert Einstein, tapi dengan bangga kunyatakan aku belum pernah mengecewakan orangtuaku dalam hal akademik sebelumnya. Kata orang, seolah ada keajaiban atau keberuntungan yang selalu mengikutiku, aku bisa melakukan apa saja dan mendapatkan apa saja. Tapi tidak, aku percaya keberuntungan akan diberikan oleh Tuhan kepada siapa saja yang tidak percaya kepada keberuntungan itu sendiri dan mampu menciptakan keberuntungannya sendiri dengan kerja keras. Aku juga percaya kalau karma baik dan buruk akan mengikutimu atau keturunanmu, tentunya aku punya hati yang baik walaupun tidak sebaik perkiraan orang lain, tapi kedua orangtuaku adalah orang sebaik itu, dengan kebaikan dan keikhlasan mereka, mereka menghadiahkan keberuntungan kepadaku dengan menjadi putri mereka. Mungkin dua poin diatas itu saja yang baik dalam diriku, fakta bahwa aku pekerja keras dan simpatik.
            Dari sekian banyak cowok yang dengan tega kusakiti untuk kemudian kutinggalkan dan kulupakan, ada satu orang yang ga tau kenapa selalu membuatku kehilangan keberanian untuk meninggalkannya. Setelah menyakiti seseorang biasanya dengan ikhlas aku akan membiarkannya menyakitiku. Tapi aku akan bersikap tangguh dengan tidak menangis, dan dengan berani meninggalkanya tanpa ada niat untuk menoleh kembali. Yang satu ini memang tidak biasa, berkali – kali aku disakiti, berkali – kali aku berniat meningggalkannya, berkali – kali aku habiskan berminggu – minggu liburanku dulu untuk melupakannya, dan berkali – kali juga dalam sedetik dia mampu membawaku kembali ke kehidupannya. Hanya saja kali ini mungkin dia sudah bosan menarikku ke kehidupannya lagi, sudah terlalu lama. Sudah 4 tahun aku hidup hanya dengan bayangannya.
            Ahh, waktu telah lama berganti ternyata sejak pertengkaran terakhir kami. Sejak terakhir kali aku bisa menangis. Andai saja air hujan yang mengalir itu bisa menyampaikan pesanku, maukah kau kembali? Tak bosankah kau di ibukota yang bising itu? Tak pernahkah kau ingin kembali ke kota ini? Aku ingin menyapamu sekali saja walaupun kamu tak mengenaliku lagi. Mala, hari sudah sore dan kau masih malas – malasan begini! Nanti malam ada jamuan makan malam di tempat salah satu petingggi kota, dan sebagai reporter berita aku wajib hadir disana. Ini salahsatu hal yang tak kusukai dari pekerjaanku dari sekian banyak hal yang kusukai tentu saja, pergi liputan di hari hujan, di tanggal 18 Agustus, hari ulangtahunmu.
            Kujabat tangan mereka satu persatu seusai kalimat terakhir liputanku berhasil kuucapkan. Mulai dari walikota, Komandan ABRI, sampai rektor salah satu universitas ternama di kotaku, sudah seharusnya kuberi ucapan terimakasih seusai wawancara singkat barusan untuk memperlancar karirku ke depannya. Para “pemimpin” terkadang bisa menjadi sangat merepotkan bagi pers sepertiku.
“Mala!”
Ada apa lagi ini? Kapan aku bisa pulang kalau orang – orang terus berdatangan untuk mengajakku mengobrol begini? Terkadang orang – orang sepertiku dianggap penting, bahkan dihafalkan namanya, oleh orang – orang “penting” saat mereka memiliki kepentingan yang ingin dipublikasikan. Kuputar kepalaku ke sumber suara barusan dengan memamerkan senyum 3 jari yang kupaksakan.
“Iya?”
“Kamu Mala kan?” Apaan sih nih orang main panggil kamu – kamu aja? Tapi dari wajhnya kayaknya seumuran deh, dari segi pakaian sih bukan seukuran harganya.
“Iya benar, mohon maaf tapi ada apa ya?”
“Ini aku, Bimo”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar