"Aku ga suka sikapmu seperti itu. Kalau hubunganmu dengannya sudah berakhir, yasudah akhiri segalanya. Apalagi sikap sok ceriamu dihadapan semua orang itu, kenapa harus kamu bersikap seperti itu? Orang - orang akan memandang buruk dirimu. Aku sebagai pendampingmu sekarang, tidakkah kamu merasa menyakitiku dengan begitu?"
"Tapi... Ah baiklah, kalau itu bisa membuatmu merasa tenang dan lebih mempercayaiku. Akan kulakukan. Akan kuubah sikapku" Aku serius dan tulus melakukannya. Aku mendebatmu, bukan karna aku tak mau berubah atau aku keras kepala. Aku cuma ingin menjelaskan padamu bagaimana caraku melihatnya, sedikit berharap kamu mampu memahaminya. Dan kalau memang pendapatku salah aku berharap kamu mampu meyakinkanku, ada sikap yang lebih benar. Toh sikap itu ada, kebiasaan itu ada, juga dari sebelumnya tidak ada, dulu kuubah karna orang - orang menilaiku terlalu sombong dan angkuh. Kalau menurutmu aku salah, aku bersedia berubah, aku harus belajar untuk lebih menjaga perasaan pendampingku dan menjaga harga diriku. Bersikap anggun. Saat inipun dan mungkin kedepannya aku masih akan bersikap seperti saranmu dulu.
"Aku gasuka kamu pulang bekerja pulang terlalu malam. Aku mengingatkanmu karena aku sayang padamu. Aku mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatanmu"
"Percayalah padaku. Aku wanita yang tau batas. Seberapa jauh aku bersikap. Seberapa dekat aku berhubungan. Seberapa mampu aku untuk melakukan suatu hal. Aku planner yang baik. Aku tak kan melakukan hal yang akan merugikanku dengan sengaja." Aku berusaha meyakinkanmu. Berharap kamu percaya padaku bahwa aku mampu mengambil keputusan yang tepat untuk hidupku sendiri, termasuk pekerjaan mana yang bisa kulakukan. Pada dasarnya aku memang suka sibuk, karna aku tau aku pemalas, harus ada hal yang kulakukan agar aku tidak jadi pemalas. Sekali saja aku punya waktu untuk bermalas - malasan, aku akan menjadi pemalas untuk beberapa hari ke depannya. Tapi kadang aku memang suka melewati batas tanpa sengaja, rencanaku salah.
Aku senang, bersyukur saat itu, ada orang yang mengkhawatirkaku dan menyayangiku sebegitunya, bersedia selalu mengingatkanku agar tak melewati batasku. Aku memang tidak salah memilihmu. Yah, tapi kamu tau untuk saat - saat seperti ini aku harus melewati batasku sepertinya. Aku butuh tetap sibuk agar tidak hancur atau berpikiran buruk. Mungkin kamu tidak suka ke-positifanku, kamu bilang itu toxic. Well, tanpanya sekarang aku sudah hancur mungkin, aku mendapatkan sifat untuk mampu melihat sisi positif dari semua kejadian di hidupku jg tidak mudah. Ada kisah panjang melawan anxiety, insecurity, dan sebagainya, yang sudah kurasakan sejak kecil hingga sekarang. Cobalah berpikir positif sedikit. Setidaknya padaku dan dirimu sendiri. Agar lebih memahami cara pandangku. Agar kamu tidak lupa bahwa kamu berharga. Jangan terlalu banyak juga, agar tidak jadi toxic.
"Aku ga suka kamu kasar. Terhadapku. Aku dibesarkan penuh cinta oleh keluargaku. Aku ga suka kamu kasar. Ke dirimu sendiri. Untuk apa kamu mengasari dirimu sendiri?" Kamu sendiri yang bilang, tidak ada yang lebih menyayangi dirimu selain dirimu sendiri. Syukurlah kamu menyadarinya. Aku tidak bohong saat bilang sikapmu itu lebih menyakitiku. Aku merasa sangat jahat membuatmu ingin menyakiti diri sendiri, merasa bersalah 'Bagaimana bisa aku sejahat itu pada orang yang selalu melihatku dengan cinta? Pada orang yang kusayangi? Pantaskah aku bilang sayang padanya? Pantaskah aku dicintai? Kalau aku menyakitimu sebegitunya'. Aku senang saat ini kamu sudah tidak begitu. Sekali lagi kuingatkan 'Kamu sangat berharga'. Jangan lupa itu.
Sekarang pertanyaannya adalah "Apa yang salah?” Tidak ada.
Mungkin kita berdua sedang sama - sama lelah. "Kalau begitu kenapa tidak istirahat sejenak saja? Kenapa berhenti?" - Raka tadi bertanya. Belum kujawab. Takkan kujawab. Karna aku tak tau alasannya.
Yang jelas masih banyak ruang untuk kita tumbuh. Untuk lebih belajar menerima, memahami, mengerti, menghargai, kompromi dan percaya, serta tidak menyerah. "Kenapa tidak belajar bersama?" - Entah. Mungkin ini cara Tuhan bilang padaku 'See, orang sebaik apapun, sesayang apapun padamu. Tak kan berakhir bahagia denganmu kalau kamu belum pantas.' Saat ini Tuhan sedang ingin mengajariku sesuatu melaluimu. Mungkin. Belum saatnya semua rencanaku, kita, yang sejauh pulau di seberang lautan itu terwujud mungkin, menurut-Nya, yaah walaupun rencana itu sudah matang menurut kita.
Tenang saja. Untuk saat ini aku sudah tidak meronta - ronta tanpa suara menyalahkan Tuhan seperti tadi(aku sudah minta maaf padanya). Aku sudah tidak menjambak - jambak rambutku (tidak sakit kok, hanya sebentar tadi) lagi. Aku sudah tidak menangis sesenggukan lagi, karna aku sadar besok aku harus bekerja, aku tak mau orang kantor tau atau menduga - menduga, sehingga tidak akan ada yang berpikir buruk tentangmu kalau nanti... (Bodoh! Beraninya aku masih berharap haha). Tadi aku sudah tidur sore sebentar, jadi aku sudah sepenuhnya sadar ini bukan mimpi. Positive thinking ku sudah kembali. Aku akan bekerja malam ini agar tidak runtuh dulu.
Pertanyaan terakhir di twitter yang menohokku. "Masih sayang?" Masih. "Kalau masih sayang, kenapa udahan?"
- The End -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar