Siang itu aku dipanggil ke ruang salah satu atasan, diberi challenge sebagai anak baru katanya. Beberapa menit berjalan, ada seseorang yang terlambat datang, dia tidak berada dalam kelompok anak baru sepertiku, sepertinya dia senior. Tapi menurutku dia menarik.
"Ki, dia siapa?" Kutanya salah satu teman sesama anak baru ku yang kutau berada dalam 1 bagian dengannya.
"Nana. Pacar orang, jangan ganggu."
2 tahun sudah aku bekerja di tempat ini
Aku sempat punya kekasih yang manis dan baik beberapa waktu yang lalu, dia salah satu juniorku. Sebenarnya aku tak tau mengapa dia meninggalkanku, mungkin dia malu kepadaku atas kesalahannya atau ya dia memang tidak seserius itu padaku. Walaupun akhir - akhir ini dia mencoba kembali, aku tak tau apakah aku masih Dewa yang sama yang bisa mencintainya atau tidak.
Belakangan aku tau, si gadis senior telat itu ternyata sudah tak berpacar. Sebagai kucing jantan sejati tak mungkin kulewatkan kesempatan ini, segera saja kujalankan proses pendekatanku. Yah walaupun urusan dengan sang mantan belum bisa kubilang berakhir, karena dia makin keukeuh mengejarku. Tapi aku tak boleh kehilangan kesempatan mendapatkan si gadis terlambat itu lagi kan.
"Kenapa kamu mau sama aku? Kita baru kenal beberapa hari loh" Tanyanya, tak mungkin kan kujawab jujur karna tubuh seksinya, atau dia terlihat menarik saat sedang bekerja.
"Dari dulu aku emang udah sering liatin kamu tau, Na. Dari jauh."
Tentu, hanya dalam hitungan hari saja bisa kudapatkan hatinya, dan dalam hitungan minggu dia telah jadi milikku. Apa yang tak bisa Dewa miliki saat Dewa menginginkannya.
Tapi ternyata, sayang sekali dibalik sikap tegasnya saat bekerja, dia sangat manja. Dibalik sifat menyenangkan dia saat di kantor, dia sangat insecure dan seringkali mencari - cari bahan overthinking. Dibalik tingkah 'yes sir' dia untuk pekerjaan kantor, dia suka mendebat dan menyalahkanku. Lelah juga menjaganya, meladeni setiap dramanya, dia benar - benar bisa berubah jadi wanita yang 180° berbeda dari yang kulihat selama ini ketika urusan cinta, ada saja masalah yang dia bawa.
Jangan kira kalau aku bodoh. Tentu saja aku sering ingin meninggalkan nya, tapi ia tak pernah mau. Dan harus kuakui, aku juga sangat menyayanginya. Aku sedang tak tau apa yang harus kulakukan, aku tak tau apa mau Nana. Padahal aku cuma mau hidup bahagia saja dengannya. Ah entahlah. Nana wanita yang rumit, dan aku tak suka itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar