Jumat, 29 Oktober 2021

Short Story 14 - Tanya (POV 1)

     Aku cuma ingin bercerita tentang  sekilas kehidupan di kantor lamaku saat masih anak baru. Aku, Dewa, sebagai lulusan salah satu kampus di Bali, yang tau serba serbi hidup di kota besar, tak mungkin aku gagal menjalani hidup di ibukota ini bukan? 
    Siang itu aku dipanggil ke ruang salah satu atasan, diberi challenge sebagai anak baru katanya. Beberapa menit berjalan, ada seseorang yang terlambat datang, dia tidak berada dalam kelompok anak baru sepertiku, sepertinya dia senior. Tapi menurutku dia menarik. 
      "Ki, dia siapa?"  Kutanya salah satu teman sesama anak baru ku yang  kutau berada dalam 1 bagian dengannya. 
      "Nana. Pacar orang, jangan ganggu."

Minggu, 26 Juli 2020

Short Story 13 - Untitled (Part 3)

Jakarta, 2020

     "Aku ga suka sikapmu seperti itu. Kalau hubunganmu dengannya sudah berakhir, yasudah akhiri segalanya. Apalagi sikap sok ceriamu dihadapan semua orang itu, kenapa harus kamu bersikap seperti itu? Orang - orang akan memandang buruk dirimu. Aku sebagai pendampingmu sekarang, tidakkah kamu merasa menyakitiku dengan begitu?"

     "Tapi... Ah baiklah, kalau itu bisa membuatmu merasa tenang dan lebih mempercayaiku. Akan kulakukan. Akan kuubah sikapku" Aku serius dan tulus melakukannya. Aku mendebatmu, bukan karna aku tak mau berubah atau aku keras kepala. Aku cuma ingin menjelaskan padamu bagaimana caraku melihatnya, sedikit berharap kamu mampu memahaminya. Dan kalau memang pendapatku salah aku berharap kamu mampu meyakinkanku, ada sikap yang lebih benar. Toh sikap itu ada, kebiasaan itu ada, juga dari sebelumnya tidak ada, dulu kuubah karna orang - orang menilaiku terlalu sombong dan angkuh. Kalau menurutmu aku salah, aku bersedia berubah, aku harus belajar untuk lebih menjaga perasaan pendampingku dan menjaga harga diriku. Bersikap anggun. Saat inipun dan mungkin kedepannya aku masih akan bersikap seperti saranmu dulu. 

     "Aku gasuka kamu pulang bekerja pulang terlalu malam. Aku mengingatkanmu karena aku sayang padamu. Aku mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatanmu"

     "Percayalah padaku. Aku wanita yang tau batas. Seberapa jauh aku bersikap. Seberapa dekat aku berhubungan. Seberapa mampu aku untuk melakukan suatu hal. Aku planner yang baik. Aku tak kan melakukan hal yang akan merugikanku dengan sengaja." Aku berusaha meyakinkanmu. Berharap kamu percaya padaku bahwa aku mampu mengambil keputusan yang tepat untuk hidupku sendiri, termasuk pekerjaan mana yang bisa kulakukan. Pada dasarnya aku memang suka sibuk, karna aku tau aku pemalas, harus ada hal yang kulakukan agar aku tidak jadi pemalas. Sekali saja aku punya waktu untuk bermalas - malasan, aku akan menjadi pemalas untuk beberapa hari ke depannya. Tapi kadang aku memang suka melewati batas tanpa sengaja, rencanaku salah. 

     Aku senang, bersyukur saat itu, ada orang yang mengkhawatirkaku dan menyayangiku sebegitunya, bersedia selalu mengingatkanku agar tak melewati batasku. Aku memang tidak salah memilihmu. Yah, tapi kamu tau untuk saat - saat seperti ini aku harus melewati batasku sepertinya. Aku butuh tetap sibuk agar tidak hancur atau berpikiran buruk. Mungkin kamu tidak suka ke-positifanku, kamu bilang itu toxic. Well, tanpanya sekarang aku sudah hancur mungkin, aku mendapatkan sifat untuk mampu melihat sisi positif dari semua kejadian di hidupku jg tidak mudah. Ada kisah panjang melawan anxiety, insecurity, dan sebagainya, yang sudah kurasakan sejak kecil hingga sekarang. Cobalah berpikir positif sedikit. Setidaknya padaku dan dirimu sendiri. Agar lebih memahami cara pandangku. Agar kamu tidak lupa bahwa kamu berharga. Jangan terlalu banyak juga, agar tidak jadi toxic.

     "Aku ga suka kamu kasar. Terhadapku. Aku dibesarkan penuh cinta oleh keluargaku. Aku ga suka kamu kasar. Ke dirimu sendiri. Untuk apa kamu mengasari dirimu sendiri?" Kamu sendiri yang bilang, tidak ada yang lebih menyayangi dirimu selain dirimu sendiri. Syukurlah kamu menyadarinya. Aku tidak bohong saat bilang sikapmu itu lebih menyakitiku. Aku merasa sangat jahat membuatmu ingin menyakiti diri sendiri, merasa bersalah 'Bagaimana bisa aku sejahat itu pada orang yang selalu melihatku dengan cinta? Pada orang yang kusayangi? Pantaskah aku bilang sayang padanya? Pantaskah aku dicintai? Kalau aku menyakitimu sebegitunya'. Aku senang saat ini kamu sudah tidak begitu. Sekali lagi kuingatkan 'Kamu sangat berharga'. Jangan lupa itu.

       Sekarang pertanyaannya adalah "Apa yang salah?” Tidak ada. 

Senin, 04 Mei 2020

Short Story 13 - Untitled (Part 2)

Jakarta, 2019

     "Bodo amat aku ga mau kerja kalau ga dianterin ke Bandung buat liat yang ijo - ijo. Kemarin Dewi pengen liat jerapah diajak ke taman safari. Masa aku engga. Jangan pilih kasih dong sama anak buahnya" Kataku pada manager ku yang umurnya hampir 1 dekade lebih tua dariku. Aku memang sudah tak muda lagi, tapi di departemen kami bisa dibilang aku yang termuda. Kalau aku tidak bersikap ceria sok manja begini, mungkin departemenku yang berisi om dan tante ini akan sesepi kuburan. Tak ada obrolan. Apalagi kedekatan. 

     "Dih. Mana yang katanya lu itu profesional? Ga kaya gue, yang pacaran mulu." Balas laki - laki yang mengaku dirinya keren tapi tak kunjung menikah itu. Mas Ari.

     "Ah! Yaudahlah. Kalau kamu sama yang lain ga jadi ikut, aku pergi naik kereta ajalah sama Mba Lia dan Mba Ira. Tapi masa kamu sama Mas Yudi tega sih mas? Nanti kita bingung kemana - mana karna ga pada bisa bawa mobil." Mohonku memelas. Sebenarnya aku tak tau kenapa aku merasa sangat suntuk di Jakarta saat itu. Sampai aku mau repot - repot memaksa orang - orang kantor untuk pergi ke Bandung. 

     "Yailah. Lo yang abis putus. Lo yang pengen liburan. Ngapain gue yang repot? Ijo - ijo juga banyak di semanggi deket kos lo." Ejeknya. 

     Dia memang berkata begitu, tapi dia tetap ikut kami ke Bandung. Lagian dia sok tau sih. Aku suntuk bukan karna baru putus dari Sena. Saat putus dari Sena aku sudah sanggup hidup tanpanya kok. Bahkan air mataku tak ada yang tertetes untuknya saat itu. Ya, setelah dia hampir tidak pernah menghubungiku selama sebulan sih, berkat itu kurasa aku jadi sadar bahwa tanpanya aku bisa tetap hidup dan baik - baik saja.

Sabtu, 29 Februari 2020

Short Story 13 - Untitled (Part 1)

     Aku tak tau dimana letak kesalahanku yang pertama kali. Saat kusebarkan berita pada keluarga dan teman - temanku bahwa aku berniat segera menikah denganmu? Atau saat aku meminta putus darimu karena kurasa sayang yang kau selalu banggakan selama ini sudah tak terlihat di matamu? Kurasa bukan keduanya. Apa aku salah ketika berpikir takut kehilanganmu yang selama ini kurasakan hanya karna kesepian? Yang satu ini mungkin benar. Sekalipun alasanku yang sesungguhnya adalah perasaaanku buatmu yang sudah tumbuh seiring berjalannya waktu. Yah, walaupun akan kuakui diawal pertemuan aku hanya ingin mencoba dekat denganmu, tanpa ada niatan serius.

Darimana baiknya kumulai cerita tentang kita ini? Ehm... Sepertinya kuceritakan sejak pertama kali aku tau kau ada di dunia ini saja bagaimana? Dulu, ketika aku bisa dibilang adalah wanita yang tak berakhlak mulia, bukannya ingin berkata sekarang aku adalah wanita berakhlak mulia juga sih. Tapi setidaknya sekarang aku sudah berusaha untuk jadi lebih baik, itupun berkatmu juga.


Aku. Nilam. Wanita yang merasa dunia berpusat padanya. Berpikir telah memiliki segalanya. Punya sepasang orangtua yang menjadikanku prioritas utama. Beberapa teman baik yang selalu ada. Dan juga seorang pacar yang tidak hanya baik namun tampan juga kaya, walaupun seperti manusia pada umumnya, dia tak sempurna. Sena.

Kamis, 24 Mei 2018

Short Story 12 - Skala

 “Begitu kamu wisuda, aku bakal lamar kamu, La.” Janji itu kamu ucapin di puncak mahameru baru beberapa waktu lalu. Janji buat dia yang udah nemenin kamu bertahun – tahun sebelumnya. Kayla. Anak gadis orang yang udah jadiin kamu ‘laki – laki terbaik’ versinya. Kayla. Satu – satunya cewek yang kamu maklumi setiap kekurangannya dan memaklumi setiap kesalahanmu sebelumnya. Kayla yang selalu marah – marah karna ke-posesif-annya tapi langsung minta maaf setelahnya. Kayla yang menyayangimu selalu di setiap detik hidupnya sejak dia resmi jadi milikmu.  Jadi mana mungkin aku ngarep buat nyaingin cintanya itu?

Minggu, 26 November 2017

Short Story 11 - Sejati



 “Ad, wanna go to cinema with me?”
“Mau nonton apa, Na?”
“Anything you like. Kinda of bored.”
“Ok. See ya at 8!”
Tas? Checked. Dompet? Checked. Muka? Agak kucel dikit sih tapi masih menuhin standarlah ya. 10 menit lagi udah jam 8, kayanya udah waktunya gue pamitan ke Ibu nih.
“Mau kemana?”
“Nonton sama Fa’ad, Bu. Daa!”
“Pulang jangan malem – malem!”
“Siip!”
Gatau kenapa I got my eyes stuck to your figure from the start. Tapi kayanya aku emang punya selera yang bagus soal cowok. Setiap cowok I have interest with selalu jadi inceran banyak cewek lain. Padahal kamu bukan yang paling ganteng, ramah, pinter, atau apapun. Aku cuma suka cara jalanmu yang beda, senyum jailmu yang charming, dan caramu memandangku. I adore you for kamu bisa cowok yang dekat sama Tuhan di jaman edan kayak gini, kayanya aku bukan satu – satunya yang mikir gitu, walaupun tentu aja aku juga dikelilingi orang – orang baik yang mencintai Tuhan sepertimu. Last but not least, aku suka ngobrol sama kamu, walaupun sejauh yang kuingat kita jarang melakukannya, tapi aku sudah cukup bahagia hanya jadi temanmu.

Sabtu, 16 September 2017

Short Story 10 - Ending



Kata orang, cewek kalau lagi nyelidikin cowoknya bisa ngalahin FBI deh pinternya. Kayaknya itu bener deh, karna gue dengan mudah bisa nemuin daftar panjang berisi nama – nama mantannya si Sena. Eh, apa – apaan nih si Vivi? Mantan tahun 2012, sekarang udah 2017 kok masih simpen foto – foto nya si Sena. Wait a minute! VS? Wow, ada sefolder sendiri nih foto – fotonya. Haha pengen ngetawain aja sih. Tapi kok quote favoritnya pake VS juga yang nulis? Bagus juga sih quote nya “True love doesn’t have a happy ending, cause true love never end”. Jangan – jangan dia masih ngarepin si Sena lagi. Sebegitunyakah? Putus 5 tahun yang lalu masih ngarep? Apa cintanya si Vivi ya yang sejati? Apa cinta gue bakal kalah? Eh, tapi kasian juga sih ya. 5 tahun jomblo ngenes gitu, mending kalau single karna prinsip.